3 Alasan Kegagalan Brasil dalam Menanggulangi Kasus Covid-19

3 Alasan Kegagalan Brasil dalam Menanggulangi Kasus Covid-19

Brasil Catat Rekor Suram Lagi, 100.000 Kasus Covid-19 dalam Sehari Halaman  all - Kompas.com

3 Alasan Kegagalan Brasil dalam Menanggulangi Kasus Covid-19 – Brasil merupakan negara paling besar dan paling banyak penduduknya yaitu sekitar 204.5 juta jiwa pada tahun 2017 di Amerika Selatan. Negara ini merupakan negara paling timur di Benua Amerika Selatan dan berbatasan dengan Pegunungan Andes dan Samudra Atlantik.

Ketika wabah Virus Corona di Brasil tidak terkendali, negara itu menghadapi kekurangan dokter di ruang perawatan intensif (ICU) yang dapat mendorong kematian lebih tinggi. Beberapa pekerja medis letih setelah berbulan-bulan melakukan pekerjaan yang melelahkan raga dan  jiwa.

Pekerja medis lain tidak dapat mengikuti arus pasien Covid-19 kritis yang tak ada habisnya, dan mendorong sistem perawatan kesehatan negara itu ke tepi jurang. Brasil sekarang menyumbang satu dari setiap enam infeksi Virus Corona yang di laporkan di seluruh dunia, menurut hitungan Reuters.

Para ahli kesehatan di Brasil mengungkapan kekhawatiran mereka mengenai kesiapan pemerintah Brasil dalam menghadapi ancaman gelombang ketiga dari penyebaran COVID-19. Runtuhnya sistem kesehatan pascagelombang pertama dan kedua yang sangat tidak terkendali, menyebabkan sekitar 470 ribu warga Brasil menjadi korban.

Dikutip dari CNBC, parlemen Brasil sedang menyelidiki tragedi yang dipercaya seharusnya dapat dihindari tersebut. Parlemen akan mencari tahu apa dan siapa yang bersalah, khususnya dalam pemerintahan Presiden Jair Bolsonaro.

Meskipun catatan jumlah kematian karena COVID-19 di Brasil saat ini sudah cenderung menurun, yaitu 1.600 orang per hari, namun tidak ada jaminan Brasil akan terhindar dari gelombang ketiga. Sebelumnya pada April 2021, Kementerian Kesehatan Brasil mencatat setidaknya 3.000 pasien COVID-19 meninggal dunia per hari.

Berikut adalah penjelasan mengenai beberapa alasan utama dan implikasi kegagalan penanggulangan COVID-19 di bawah komando Presiden Bolsonaro.

1. Program vaksinasi berjalan lambat
Fakta-Fakta Gagalnya Brasil Tangani COVID-19, Gelombang 3 Membayangi

Menurut laporan AFP, dari 212 juta penduduk Brasil baru sekitar 10,5 persen atau sekitar 22 juta orang yang sudah divaksinasi. Angka tersebut tergolong sangat kecil untuk negara dengan populasi yang cukup besar. Program vaksinasi di Brasil sendiri dinilai sangat lambat. Kebijakan pemerintah yang tidak mempercepat proses vaksin dalam skala besar. Kebijakan vaksin massal diuji coba oleh Brasil di Kota Serrana. Tercatat 95 persen dari 45 ribu penduduk kota itu berhasil divaksinasi.

Berdasarkan data yang didapatkan, pemerintah Brasil sukses menurunkan angka kematian akibat COVID-19 tersebut sebesar 95 persen begitu pula kasus tingkat perawatan pasien COVID-19 di rumah sakit turun sebesar 86 persen. Walaupun tergolong sukses, masih belum dapat dipastikan apakah Presiden Bolsonaro mau menerapkan strategi yang sama di kota maupun daerah lainnya.

2. Program pembatasan sosial di Brasil tidak dilaksanakan secara nasional
Fakta-Fakta Gagalnya Brasil Tangani COVID-19, Gelombang 3 Membayangi

Banyak warga Brasil yang menganggap pandemik COVID-19 tidak benar-benar ada. Hal itu dibuktikan dengan bebasnya mereka beraktivitas sehari-hari tanpa mematuhi aturan protokol pembatasan di tempat publik ataupun tempat kerja guna mengantisipasi penyebaran COVID-19, seperti yang dilansir dari AFP. Banyak ahli berpendapat bahwa masyarakat Brasil mengakui negara mereka sedang mengalami krisis besar akibat COVID-19.

Tetapi mereka lebih memilih untuk melanjutkan hidup normal tanpa mempertimbangkan efek berbahaya apabila pembatasan tidak diterapkan. Brasil dinilai harus melaksanakan pembatasan besar-besaran dalam skala nasional dan sekaligus melaksanakan vaksinasi massal guna mengendalikan penyebaran COVID-19 di masyarakatnya yang masih tinggi kasusnya.

3. Bolsonaro masih tak menghiraukan rekomendasi ahli kesehatan
Fakta-Fakta Gagalnya Brasil Tangani COVID-19, Gelombang 3 Membayangi

Presiden Jair Bolsonaro tergolong sebagai tokoh-tokoh pemimpin di dunia yang tidak percaya dengan pandemik COVID-19, meskipun dirinya sudah pernah terinfeksi virus berbahaya tersebut. Kepemimpinannya yang skeptis terhadap COVID-19. Dukungan penuh yang ia dapatkan di kalangan komunitas sayap kanan membuatnya sering tidak menghiraukan rekomendasi ahli kesehatan yang mencoba menghentikan penyebaran virus.

Bolsonaro yang berharap kelonggaran yang ia berikan kepada Brasil dalam menghadapi COVID-19 dapat membantu dirinya memenangkan Pilpres Brasil 2022. Namun, para ahli politik berpendapat justru kelonggaran yang menyebabkan krisis kesehatan inilah yang bisa menjatuhkan Jair Bolsonaro, seperti yang disampaikan CNBC. Dia melontarkan banyak janji bahwa seluruh Warga Brasil akan divaksinasi sebelum 2021 berakhir. Namun, tanpa ada kebijakan konkret yang diambil Bolsonaro dalam waktu dekat, elektabilitasnya dipastikan akan terus turun.