Mengenal Emotional Eating dan Penyebabnya

Mengenal Emotional Eating dan Penyebabnya

Emotional Eating: Pola Makan Saat Stress yang Gak Sehat | Opini.id

Mengenal Emotional Eating dan Penyebabnya – Setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk mengatasi tekanan atau stres. Tidak jarang, seseorang akan memilih untuk mengonsumsi makanan kesukaan dalam jumlah banyak saat menghadapi situasi sulit. Dalam dunia medis, keadaan seperti ini di kenal dengan istilah emotional eating. Kadang sulit membedakan antara kondisi kita benar-benar lapar atau “lapar mata” yang merupakan bagian dari emotional eating, yakni saat seseorang makan untuk memuaskan emosi, bukan karena perut lapar.

Emotional eating adalah kebiasaan mengonsumsi makanan kesukaan secara berlebihan saat stres meski sedang tidak lapar. Kondisi tertekan dapat menyebabkan pelepasan beberapa hormon stres pada tubuh. Dalam jangka pendek, stres dapat menurunkan nafsu makan akibat pelepasan hormon epinefrin oleh kelenjar adrenal tubuh. Namun, bila terus berlangsung, stres menyebabkan pelepasan hormon kortisol yang dapat meningkatkan nafsu makan.

Ciri utama dari kondisi ini adalah munculnya perubahan pola makan berkaitan dengan emosi yang dirasakan. Ketika mengalami kondisi psikologis seperti tertekan, sedih, stres, atau depresi, penderita akan mencari “pelarian” pada makanan. Padahal, bisa jadi penderitanya tidak sedang merasa lapar.

Terdengar sepele, tetapi sebetulnya emotional eating tak boleh terus-terusan dituruti. Orang yang makan untuk memuaskan emosi melakukannya beberapa kali seminggu atau lebih untuk menekan dan menenangkan perasaan negatif. Mereka bahkan mungkin merasa bersalah atau malu setelah makan dengan cara ini, yang mengarah ke siklus makan berlebih dan masalah terkait, seperti penambahan berat badan.

Sebetulnya apa, sih, penyebab kita lapar mata? Baca ulasannya di bawah ini, ya!

1. Kebiasaan atau kenangan masa kecil
5 Penyebab Lapar Mata, Jangan Terus-terusan Dituruti!

Banyak orang yang punya kenangan masa kecil yang manis tentang makanan. Misalnya orang tua dulu suka menghadiahi permen, es krim, burger, dan makanan lainnya misalnya untuk merayakan keberhasilan. Ini membuat kita merasa terikat dengan makanan tertentu secara emosional saat tumbuh dewasa. Saat stres, beberapa hal bisa sangat menghibur, misalnya makanan favorit. Karena beberapa orang tidak mengembangkan coping mechanism yang efektif, tipe emotional eating ini sangat umum: orang makan untuk merayakan sesuatu, makan untuk membuat dirinya lebih baik, atau makan untuk mengatasi stres karena kelebihan berat badan.

2. Makan untuk menenangkan emosi
5 Penyebab Lapar Mata, Jangan Terus-terusan Dituruti!

Alasan emosional lainnya yang bikin seseorang makan adalah untuk menenangkan emosi yang tidak nyaman. Misalnya, orang yang tidak nyaman dengan konfrontasi, misalnya frustrasi akan hubungannya dengan pasangan, akan makan sepotong besar kue atau makanan cepat saji ketimbang membicarakan dan menyelesaikan masalah dengan pasangannya. Makanan dianggap dapat mengalihkan fokus dari kemarahan, kebencian, ketakutan, kecemasan, dan sejumlah emosi lain yang terkadang tidak ingin dirasakan atau memilih untuk menghindarinya.

3. Merasa kosong atau bosan
5 Penyebab Lapar Mata, Jangan Terus-terusan Dituruti!

Apakah kamu pernah makan atau memesan makanan karena sedang tak ada kerjaan atau aktivitas, untuk menghilangkan rasa bosan, atau cara untuk mengisi kekosongan dalam hidup? Dilansir HelpGuide, kamu merasa tidak puas dan kosong, dan makanan adalah cara untuk mengisi mulut dan waktu. Pada saat itu, itu bisa terasa memuaskan dan mengalihkan perhatian dari perasaan tidak ada tujuan dan ketidakpuasan yang mendasari hidup.

4. Pengaruh sosial
5 Penyebab Lapar Mata, Jangan Terus-terusan Dituruti!

Berkumpul dengan orang lain untuk makan adalah cara yang baik untuk menghilangkan stres. Namun, di sisi lain ini juga bisa menyebabkan makan berlebihan. Ini bisa dengan mudah terjadi karena memang ada banyak makanan di sana atau karena semua orang makan. Kamu juga mungkin bisa makan berlebihan dalam situasi sosial karena gugup, atau mungkin keluarga atau teman mendorong untuk kamu makan berlebihan. Selain itu, sering kali saat stres kita akan mencari dukungan sosial. Sayangnya, bagi yang sedang diet, saat acara kumpul-kumpul, biasanya yang dilakukan adalah pergi ke restoran atau kafe untuk makan-makan sembari mengobrol.

Tidak salah untuk berpartisipasi dalam makan sosial, tetapi saat stres umumnya kita cenderung memilih makanan yang tidak sehat. Misalnya, makan es krim porsi besar sembari menangis di bahu teman ketika curhat, atau pergi makan dengan memesan makanan gorengan porsi besar, atau berbagi semangkuk besar keripik saat menonton serial atau film, itu merupakan bentuk dari emotional eating. Ini tidak di larang selama kamu secara sadar memilih apa yang kamu makan. Namun, akan jadi masalah bila kamu beraksi terhadap emosi, secara impulsif, yang pada akhirnya membuatmu merasa bersalah dan menyesal.

5. Mengidam karena hormon stres
5 Penyebab Lapar Mata, Jangan Terus-terusan Dituruti!

Stres dapat meningkatkan kadar kortisol, yang dikenal sebagai hormon stres. Kortisol sebetulnya punya banyak manfaat buat tubuh. Namun, kadarnya yang berlebihan karena stres kronis dapat menyebabkan banyak masalah. Di antaranya memicu keinginan untuk makan makanan asin dan manis, berlemak, atau makanan olahan, ditambah dengan begitu mudahnya mendapatkan makanan di zaman sekarang, misalnya lewat layanan pesan antar. Bila terus dituruti, ini dapat menyebabkan kenaikan berat badan.

Kapan harus khawatir?
5 Penyebab Lapar Mata, Jangan Terus-terusan Dituruti!

Tanda-tanda peringatan untuk lapar mata atau emotional eating termasuk kecenderungan merasa lapar secara intens dan tiba-tiba, bukan secara bertahap seperti yang terjadi dengan kebutuhan fisik ketika perut kosong. Pelaku emotional eating cenderung mendambakan junk food ketimbang makanan bergizi seimbang, dan dorongan untuk makan biasanya didahului oleh stres atau emosi yang tidak nyaman, seperti kebosanan, kesedihan, kemarahan, rasa bersalah, atau frustrasi. Tanda lainnya adalah orang yang sering lapar mata mungkin merasa kurang bisa mengontrol dirinya saat makan dan sering merasa bersalah atas apa yang dimakan.

Itulah beberapa penyebab kita lapar mata atau melakukan emotional eating. Bila kamu mengalaminya, makin parah atau tak bisa mengontrolnya, sebaiknya konsultasikan ke dokter dan/atau ahli kesehatan jiwa bila perilaku ini didasari gangguan mental. Mereka dapat membantu mengatasi kelebihan berat badan atau gejala fisik lainnya, serta menghilangkan kondisi mental yang mendasarinya.