Gempa Berkekuatan 8 Meter Mengguncang Maluku Tengah

Gempa Berkekuatan 8 Meter Mengguncang Maluku Tengah

Ketahui, Ini yang Harus dan Jangan Dilakukan Saat Terjadi Gempa Halaman all  - Kompas.com

Gempa Berkekuatan 8 Meter Mengguncang Maluku Tengah – Gempa bumi adalah getaran atau getar-getar yang terjadi di permukaan bumi akibat pelepasan energi dari dalam secara tiba-tiba yang menciptakan gelombang seismik. Gempa Bumi biasa di sebabkan oleh pergerakan kerak Bumi (lempeng Bumi). Frekuensi suatu wilayah, mengacu pada jenis dan ukuran gempa Bumi yang dialami selama periode waktu. Gempa Bumi diukur dengan menggunakan alat Seismometer.

Moment magnitudo adalah skala yang paling umum di mana gempa Bumi terjadi untuk seluruh dunia. Skala Richter adalah skala yang di laporkan oleh observatorium seismologi nasional yang diukur pada skala besarnya lokal 5 magnitude. Kedua skala yang sama selama rentang angka mereka valid. Gempa 3 magnitude atau lebih sebagian besar hampir tidak terlihat dan jika besarnya 7 lebih berpotensi menyebabkan kerusakan serius di daerah yang luas, tergantung pada kedalaman gempa.

Gempa Bumi terbesar bersejarah besarnya telah lebih dari 9, meskipun tidak ada batasan besarnya. Gempa Bumi besar terakhir besarnya 9,0 atau lebih besar adalah 9,0 magnitudo gempa di Jepang pada tahun 2011 (per Maret 2011), dan itu adalah gempa Jepang terbesar sejak pencatatan dimulai. Intensitas getaran diukur pada modifikasi Skala Mercalli.

Baru – baru ini, gampa bumi mengguncang Maluku Tengah. Kepala Desa Tehoru Hud Silawane mengatakan selain terdapat kerusakan di rumah warga, ada pula tanah amblas di dua titik dekat rumah penduduk, akibat gempa bermagnitudo 6,1 yang melanda Maluku Tengah pada Rabu, 16 Juni 2021. Silawane mengatakan kedalaman tanah ambles tersebut antara enam hingga delapan meter. Namun, dia menyebutkan, tidak ada korban jiwa karena kejadian itu.

1. BPBD Kabupaten Maluku Tengah sudah menyalurkan bantuan
Tanah di Maluku Tengah Ambles hingga 8 Meter akibat Gempa

BPBD Kabupaten Maluku Tengah memberikan bantuan ratusan selimut, tikar dan tenda kepada warga sekitar pesisir Teluk Teluti, Kecamatan Tehoru, yang menyelamatkan diri ke tempat-tempat tinggi setelah merasakan gempa. “Masing-masing desa telah diberikan dua tenda, ratusan tikar dan selimut kepada warga yang terdampak gempa bumi tektonik magnitudo 6.1,” kata Kepala Pelaksana BPBD Maluku Henri M Far Far di Ambon, dilansir ANTARA, Kamis, 17 Juni 2021.

Sesuai hasil koordinasi dan laporan dengan Satuan Pelaksana BPBD Maluku Tengah, ia mengatakan, warga bukan tergolong pengungsi tetapi mereka hanya menyelamatkan diri di tempat terbuka mengantisipasi terjadinya gempa susulan maupun tsunami. “Pagi ini Bupati Maluku Tengah Abua Tuasikal bersama tim BPBD setempat juga akan meninjau langsung desa-desa terdampak gempa bumi tektonik magnitudo 6.1, serta belasan kali gempa susulan dalam skala yang lebih kecil,” kata Henri.

2. Warga mengevakuasi diri saat terjadi gempa
Gempa Jepara Terasa Sampai Wonogiri dan Klaten: Lantai Rumah Horeg Sinyal  Erupsi Merapi Bunyi

Henri menjelaskan umumnya rumah-rumah penduduk di pesisir Seram Selatan itu berada di tepi pantai, namun jaraknya tidak terlalu jauh dengan dataran yang lebih tinggi. Sehingga saat terjadi gempa, mereka langsung melarikan diri ke tempat terbuka guna menghindari ancaman tertimpa bangunan yang roboh ataupun bahaya tsunami. Sementara, Kepala BPBD Maluku Tengah Abdulatif Kelly mengatakan kesiap-siagaan warga menghadapi bencana alam seperti gempa sangat tepat karena sebelumnya juga telah dilakukan sosialisasi. Gempa di Maluku Tengah ini sempat disebutkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) berpotensi tsunami akibat longsoran bawah tanah. Karena itu, warga diimbau waspada.

3. Belum ada negara satu pun mampu memprediksi tsunami non tektonik
Jangan Panik! Ini Tips Aman Selamatkan Diri ketika Bencana Gempa - Minews ID

Pada kesempatan berbeda, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan hingga saat ini belum ada negara yang mampu mendeteksi dini tsunami non-tektonik atau yang tidak disebabkan gempa bumi. “Saat ini tsunami non tektonik belum bisa dideteksi dini, termasuk negara maju. Maka kami meminta dengan sangat masyarakat menggunakan kearifan lokal kalau merasakan guncangan gempa yang sangat kuat terutama di wilayah pesisir segera tinggalkan ke tempat yang lebih tinggi,” kata Dwikorita dalam jumpa pers yang dipantau secara daring di Jakarta, Rabu.

Dwikorita menjelaskan, BMKG secara khusus memantau wilayah Maluku Tengah karena berdasarkan sejarah cukup sering terjadi tsunami. Tsunami yang terjadi bisa saja bukan disebabkan gempa bumi, tapi akibat tebing longsor di pantai, ataupun longsor di bawah laut. Sebagai informasi, terjadi gempa dengan magnitudo 6,1 yang kemudian dimutakhirkan menjadi 6,0 yang berlokasi di laut pada jarak 69 km arah Tenggara Kota Masohi, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku pada kedalaman 19 km.

Hasil pemodelan tsunami dengan sumber gempa tektonik menunjukkan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami, namun berdasarkan hasil observasi tinggi muka air laut di stasiun Tide Gauge Tehoru menunjukkan adanya kenaikan muka air laut setinggi 0,5 m. Naiknya permukaan laut diperkirakan akibat dari longsoran bawah laut.

Terkait gempa tersebut, BMKG mengeluarkan imbauan kepada masyarakat terutama di wilayah sepanjang Pantai Japutih sampai Pantai Atiahu Kabupaten Maluku Tengah, Pulau Seram, Maluku untuk waspada gempa susulan dan potensi tsunami akibat longsor ke laut atau di bawah laut, maka segera menjauhi pantai menuju tempat tinggi apabila merasakan guncangan gempa cukup kuat. “Apabila batuan itu masuk ke laut bisa menyebabkan tsunami, datangnya sangat cepat hanya dua menit seperti di Palu,” kata Dwikorita.

4. Mitigasi bencana tsunami
Siaga menghadapi tsunami

Dwikorita menjelaskan, secara teori tsunami terjadi 20 menit setelah gempa kuat di laut dengan kedalaman dangkal. Namun teori tersebut runtuh dengan kejadian tsunami di Palu pada 2018, di mana tsunami terjadi sangat cepat hanya dua menit akibat longsor bawah laut. “Ini menjadi PR para ahli bagaimana memberikan peringatan dini tsunami non tektonik. Karena itu kami imbau siapapun yang ada di pantai, apabila merasakan guncangan gempa yang cukup kuat segera mencari tempat yang lebih tinggi,” kata Dwikorita.

Gempa yang cukup kuat tersebut, menurut Dwikorita, apabila merasa terayun atau jika berdiri seakan-akan mau jatuh, maka tidak perlu menunggu adanya peringatan dini tsunami, tapi segera meninggalkan pantai. Lari secepat mungkin ke tempat yang lebih tinggi dan aman.