Fakta Daging Panggang yang Dapat Meningkatkan Resiko Kanker

Fakta Daging Panggang yang Dapat Meningkatkan Resiko Kanker

4 Risiko Penyakit Akibat Sering Makan Daging Bakar : Okezone Lifestyle

Fakta Daging Panggang yang Dapat Meningkatkan Resiko Kanker – Makan makanan yang di panggang atau di bakar sudah menjadi pilihan pengolahan makanan favorit bagi kebanyakan orang. Hampir semua orang, mungkin juga termasuk kamu, pastinya suka mengonsumsi makanan yang di bakar seperti ayam bakar, sate, ikan bakar, dan lain-lain. Makanan yang di olah dengan cara di bakar memang terasa lebih enak. Daging jadi terasa lebih empuk dan garing, serta aroma gosongnya yang khas bisa menambah cita rasa makanan.

Apalagi siapa yang bisa menolak kelezatan daging panggang yang telah di-slice tipis-tipis lalu di marinasi dengan saus? Sepertinya, hampir semua orang akan menyukainya. Tidak heran jika restoran grill dan barbeque semakin tumbuh subur, apalagi di kota-kota besar. Namun, di balik kelezatannya, ada hal yang perlu di khawatirkan. Ada yang beranggapan bahwa mengkonsumsi Daging panggang dapat meningkatkan resiko kanker. Kanker merupakan penyakit yang di sebabkan oleh perubahan sifat genetik di dalam sel tubuh.

Salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya perubahan ini adalah gaya hidup yang tidak sehat, seperti kebiasaan mengonsumsi makanan instan, makanan berlemak, dan minuman beralkohol. Menurut beberapa penelitian, makanan dan minuman tertentu dapat meningkatkan risiko berkembangnya kanker di dalam tubuh, terutama jika di konsumsi terlalu sering. Jadi apakah benar bahwa mengkonsumsi daging panggang dapat menyebabkan kanker? simak ulasan berikut ini.

1. Amina heterosiklik terbentuk pada daging merah yang di panggang
Benarkah Memanggang Daging Meningkatkan Risiko Kanker?

Berdasarkan studi yang di terbitkan di jurnal Nutrition and Cancer tahun 2010, peneliti dari Vanderbilt University, Amerika Serikat (AS), menyimpulkan bahwa daging panggang memiliki paparan karsinogen yang tinggi, terutama amina heterosiklik (HCA) yang bisa meningkatkan risiko kanker pada manusia. Amina heterosiklik (di sebut juga sebagai amina aromatik heterosiklik atau HAA), merupakan bahan kimia yang terbentuk dalam daging merah yang dimasak. Kandungan HCA umumnya lebih rendah pada unggas dan ikan, menurut studi yang dipublikasikan di jurnal Chemical Research in Toxicology tahun 2011.

2. Bahan kimia lain yang terbentuk adalah hidrokarbon aromatik polisiklik
Benarkah Memanggang Daging Meningkatkan Risiko Kanker?

Bahan kimia lain yang dikaitkan dengan kanker adalah hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH). Menurut lembar fakta yang diterbitkan oleh National Cancer Institute (NCI), PAH terbentuk ketika lemak dari daging yang dipanggang menetes ke permukaan atau api lalu menyebabkan nyala api dan asap. Asap yang mengandung PAH akan menempel pada permukaan daging. Bahkan, meski daging tidak hangus dan tidak dimasak pada suhu tinggi, PAH tetap ada dan berpotensi menimbulkan kanker di kemudian hari.

3. Bahan kimia tersebut bisa menyebabkan kerusakan DNA
Benarkah Memanggang Daging Meningkatkan Risiko Kanker?

HAA dan PAH dimetabolisme oleh enzim dalam tubuh. Menurut Robert Turesky, peneliti dari University of Minnesota, AS, produk sampingan dari proses ini bisa menyebabkan kerusakan DNA dan berkontribusi pada perkembangan kanker. Perlu diingat, konsentrasi HAA yang terbentuk dalam daging bergantung pada jenis daging, metode, suhu, dan durasi memasak. Konsentrasi HAA tertinggi di temukan pada daging matang yang di olah dengan cara barbequing atau memanggang di atas api serta pada daging yang hangus.

4. Tak hanya kanker, paparan bahan kimia itu juga menyebabkan tumor dan leukemia
Benarkah Memanggang Daging Meningkatkan Risiko Kanker?

Berdasarkan studi yang diterbitkan di jurnal Cancer Science tahun 2004, paparan HCA dan PAH bisa menyebabkan kanker pada hewan percobaan. Menurut keterangan dari National Cancer Institute, tikus yang di beri makanan yang mengandung HCA mengembangkan tumor usus besar, hati, paru-paru, kulit, prostat, payudara, dan organ lainnya. Selain itu, hewan pengerat yang diberi PAH berpotensi mengembangkan kanker, leukemia, serta tumor pada paru-paru dan saluran pencernaan. Dengan catatan, dosis HCA dan PAH yang digunakan dalam penelitian ini sangat tinggi, setara dengan ribuan kali dosis normal yang dikonsumsi seseorang.

5. Apa yang bisa di lakukan untuk mengurangi risiko kanker?
Benarkah Memanggang Daging Meningkatkan Risiko Kanker?

Tenang, ini bukan akhir dari segalanya. Kita tetap bisa menikmati daging panggang dengan aman. Misalnya, pilihlah grass-fed steak, ayam, atau ikan daripada daging merah yang berlemak tinggi. Lalu, konsumsilah daging bersama sayuran dan buah buahan. Selain itu, untuk mencegah lemak dari daging yang menetes ke api, lapisi daging dengan pembungkus berbahan foil yang melindungi dari panas tinggi. Jangan lupa sering membolak-balik daging untuk menghindari garis arang hitam. The last one, gunakan pemanggang gas supaya kita bisa mengontrol suhu dengan baik.

Itulah penjelasan singkat mengenai korelasi antara daging panggang dengan risiko kanker. Semoga bermanfaat!